Pelajaran Hidup 1 (jangan membanding-bandingkan)
Written by : zumrotul hasanah (ampun pak /bu saya masih belajar dalam menulis juga dalam segalanya,jadi mohon bimbingannya L)
Pada suatu sore setelah kuliah saya bersantai di kamar kos sambil nonton tv. Yah begitulah sebagian dari rutinitas saya di luar jam kuliah. Saya tergolong orang biasa saja,yang ingin menghabiskan waktu luang saya juga dengan biasa seperti kebanyakan orang lain. Disaat sedang bersantai tiba-tiba datang seorang hawa berkunjung ke kamar saya. Seperti kabanyakan hawa (termasuk saya),tidak bisa ditolak kalau hawa memang suka mengobrol ketika mereka sedang berkumpul. Itulah yang kami lakukan membuka obrolan ringan seputar kehidupan hawa yang kompleks,tidak sesimple kaum adam karena dari akar rambut sampai ujung kaki pun bisa menjadi topik yang menarik untuk kami bahas. Ya sampai sini obrolan masih terasa enak untuk saya ikuti. Dan pada ujungnya obrolan tiba pada topik yang saya tidak nyaman dan jujur kami berbeda pendapat mengenai obrolan ini. Dia (hawa) menanyakan pendapat saya tentang seberapa putih kulitnya di banding hawa lain,seberapa cantik dia di banding hawa lain,seberapa baik dia dibanding hawa lain.
Sungguh saudaraku ini merupakan obrolan yang sudah sering kalian lantunkan (terutama dikalangan remaja perempuan yang menginjak puber,dikalangan wanita yang hobi ke salon dan mall,dikalangan wanita yang mengutamakan fashion,bahkan dikalangan ibu2 yang suka menghamburkan uang suaminya). Saya TIDAK lebih baik dari hawa2 yang lain,termasuk yang saya sebutkan. Tetapi dari hati saya ingin berkata bahwa obrolan yang intinya membanding-bandingkan diri dengan orang lain apalagi jelas-jelas orang lain itu lebih WAH dari pribadi yang mengobrolkan menurut saya adalah obrolan yang tidak akan berujung. Karena tiap orang fitrahnya memang berbeda tidak boleh disamakan apalagi dibanding-bandingkan. Jadi untuk apa kita membanding-bandingkan orang yang jelas-jelas sudah tercipta berbeda dari sananya (mau mencari kesamaan?jelas tidak akan sama lah^^). Dan kalau kita membandingkan diri dengan orang WAH yang ada nanti malah timbul rendah diri dan kurang bersyukur atas apa yang telah diberikanNYA. Kenapa ya kok saya tidak bisa WAH seperti dia? Tidak usah ada pertanyaan seperti itu.
Itulah hal yang saya ingin katakan kepada hawa-hawa sekalian terkait dengan pengalamn saya ketika mengobrol dengan tamu saya tadi.
Oh ya saya juga mau menambahi masih berkaitan dengan topik di atas. Ini sekedar pendapat dari saya (orang yang amat sangat biasa), saudaraku bagaimana sikap kita kalau tanpa sadar kita telah membandingkan diri kita dengan orang yang ada di bawah kita?
Ini pengalaman lama yang saya alami. Menurut saya, yang pertama bersimpati si boleh (kita sering melakukannya kan jika melihat orang yang tidak seberuntung kita). Yang perlu di ingat adalah kalimat apa yang kita ucapkan setelah bersimpati. Yang sering terjadi adalah kemudian kita larut akan” posisi” kita yang lebih dari ”dia” lalu kita membanggakan diri (sering terlontar di sela2 candaan), lalu kita meremehkan ”dia”. Ketika saudara sedang membandingkan diri dengan orang yang kebetulan ada dibawah saudara,jangan sampai terjadi yang demikian ya.^^
Yang terakhir untuk orang tua yang sering membandingkan anaknya dengan anak tetangga. Maksud hati ingin memotivasi biar anaknya bisa mencontoh anak lain,tapi liat saja apa yang akan terjadi kalau ortu melakukannya :P bukannya tambah baik pasti si anak akan ngambek dan tidak akan mau menuruti nasehat ortu.^^
Bapak/ibu yang saya tauladani anak2 kalian pasti punya kelebihan dari yang si fulan kalian bandingkan begitupun si fulan. Jadi motivasilah anak secara benar,berikan nasehat yang mampu membesarkan hati anak untuk mau bergerak jadi lebih baik,dan jangan sekali-kali membandingkan anak kalian dengan anak lain.
Ps: bandingkanlah dirimu hanya dengan dirimu sendiri! Kamu yang sekarang sudah lebih baik belum dari kamu yang dulu? Semangad!!! J
About writer : hehe saya punya cerita lucu ni tentang diri saya. Ini yang nyeritain ortu, dulu kata ibu saya lahirnya keluar begitu saja dari miss.V ibu. Kok segampang itu ya saya keluar (confused)???? Critanya dulu waktu ibu hamil tua (sedang mengandung saya), ibu kebelet buang air besar. Terus ibu jongkok deh tapi bukan di toilet karena waktu itu belum punya toilet, jadi pas ibu mau buang air besar Cuma di atas tanah yang di lapisi apa gitu. Sudahhhhhhhhhhhhh jangan dibahas:-O kembali ketopik. Jadi waktu ibu pas jongkok eh bukan pup yang keluar tapi saya yang keluar dengan usus yang melingkar di leher saya. Bapak yang tau kejadian itu langsung deh manggil dukun beranak dan taraaaaaaaaaaaa...............alhamdulillah ibu dan saya selamat.^_______^
Tentang nama
Dulu pas masih jadi bayi merah saya diberi nama zumrotul hasanah khofifah . Beberapa hari setelah itu saya sakit-sakitan, kepercayaan orang jawa namanya harus diganti atau dikurangi biar si bayi tidak sakit-sakitan lagi. Alhasil nama saya sekarang jadi zumrotul hasanah (padahal saya suka ada ”khofifah”nya L) karena itu untuk mengenang nama saya yang hilang kadang saya menggunakan nama itu di accoun saya yang lain J









